Jumat, 02 November 2012

Makalah Evolusi Dan Manusia


BAB II
PEMBAHASAN
Evolusi Primaata dan Manusia

A.                Pengertian Evolusi
Evolusi manusia, atau Anthropogenesis, merupakan bagian dari evolusi biologi yang mengenai munculnya homo sapiens. Ini merupakan subyek yang luas penyelidikan ilmiah yang berusaha memahami dan menjelaskan bagaimana perubahan ini terjadi. Studi dari evolusi manusia meliputi berbagai ilmu pengetahuan, terutama fisik antropologi, linguistik dan genetika.
Beberapa typological spesies Homo telah berkembang. Termasuk Homo erectus yang menghuni Asia dan Homo neanderthalensis yang menghuni Eropa.
Evolusi adalah suatu proses alami di mana setiap kehidupan terus berubah dari generasi ke generasi. Setiap individu organisme mewarisi karakternya masing-masing dari orang tua mereka melalui sifat gen yang diturunkan. Perubahan (mutasi) gen pada suatu individu dapat menimbulkan karakter baru pada keturunan berikutnya.
Bila karakter baru itu membuat si individu lebih cocok dengan lingkungannya, maka mereka akan lebih sukses dalam bertahan hidup dan memproduksi keturunan.Sebaliknya, bila karakter tersebut membuat si individu baru kurang bertahan, karakter tersebut lambat laun akan hilang dari populasi organisme tersebut. Proses ini disebut sebagai seleksi alam.
Seleksi alam menyebabkan karakter-karakter yang positif semakin banyak muncul dalam populasi. Dan setelah melewati banyak sekali generasi, suatu populasi dapat memiliki banyak karakter baru yang berbeda dari karakter nenek moyangnya sehingga muncullah spesies baru.
200px-age-of-man-wiki.jpgLalu, bila dilihat dari judul tulisan ini, akankah suatu saat manusia berubah (dengan cepat) menjadi spesies lain lagi?
Mungkin…
Sebuah studi genetika baru-baru ini menunjukkan bahwa berbagai ras manusia menjadi semakin berbeda satu dengan lainnya akibat proses evolusi yang semakin cepat.
Dalam 5000 tahun terakhir, perubahan gen manusia terjadi 100 kali lebih tinggi dibanding masa-masa sebelumnya. Hal ini bertolak belakang dengan kepercayaan lama yang menyebutkan bahwa evolusi manusia telah berhenti pada saat ini.
Para ahli dari University of Utah, Salt Lake City, US, menyebutkan bahwa gen manusia berevolusi dengan cepat di benua Eropa, Asia dan Afrika. Namun perubahan tersebut berbeda-beda sesuai dengan benua asalnya. Akibatnya, manusia secara genetik menjadi semakin berbeda satu dengan lainnya. Contoh karakter yang semakin muncul adalah mata biru dan kulit putih di Eropa Utara serta ketahanan terhadap malaria di Afrika.
Menurut mereka, hal itu terjadi karena turunnya tingkat kawin mawin antar benua dibanding pada masa nenek moyang manusia modern meninggalkan Afrika untuk menyebar ke seluruh dunia. Walau demikian, kecepatan evolusi manusia tidak berkurang sejak masa itu. Para ahli juga menduga kalau evolusi tersebut akan terus berlanjut.
Lima ribu tahun merupakan waktu yang sangat singkat bila menyangkut sebuah proses evolusi. Namun dalam evolusi manusia ini, hanya dalam 100 sampai 200 generasi, gen yang menguntungkan dan terseleksi telah dimiliki oleh 30%-40% populasi manusia.
Salah satu faktor yang menyebabkan evolusi cepat ini adalah perubahan lingkungan. Pola dan bahan makanan kita berubah dengan cepat, demikian juga dengan timbulnya berbagai penyakit. Ini semua memaksa spesies manusia untuk ’berubah’, agar dapat terus bertahan hidup walau apa pun yang terjadi.

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang bisa menjadi subyek dan  obyek sekaligus. Menusia berfikir dan merenung, kemudian menjadikan  dirinya sebagai obyek fikiran dan renungan.. Manusia sangat menarik  di mata manusia itu sendiri. Terkadang manusia dipuja, tetapi di kala  yang lain ia dihujat. Scara internal manusia sering merasa bangga dan  bahagia menjadi manusia, tetapi di mata orang lain atau di waktu yang  lain, ia terkadang menyesali diri sendiri, menyesali keberadaannya  sebagai manusia.

Ada manusia yang perilakunya berada di luar batas perikemanusiaan,  tetapi ada juga manusia yang begitu tinggi tingkat kemanusiaannya  sehingga ia disebut sebagai "manusia suci". Pada umumnya manusia  tertarik untuk bertanya tentang dirinya ketika berada dalam puncak- puncak kebahagiaan, kesedihan, ketakutan, keberhasilan dan puncak  kegagalan. Ada kesepakatan pandangan, bahwa betapapun manusia terdiri  dari jiwa dan raga, tetapi penilaian tentang kualitas manusia  terfokus pada  jiwanya, terkadang disebut hatinya, karena hakikat  manusia adalah jiwanya..

Dalam sejarah keilmuan, lahirnya filsafat, antropologi, psikologi,  ekonomi dan politik sesungguhnya juga merupakan upaya mencari jawaban  tentang manusia, tetapi  khusus tentang jiwa manusia,  ia dibahas
oleh filsafat, psikologi  dan agama.

B. Ilmuwan Ungkap Rahasia Pendorong Evolusi Manusia
Fluktuasi iklim mendorong lompatan besar pada evolusi manusia sejak munculnya moyang awal hingga munculnya alat batu.
Ilmuwan University of Liverpool merekonstruksi kecenderungan respon moyang manusia pada iklim lima juta tahun silam.
Ilmuwan juga mengaku menemukan kunci kejadian evolusioner bertepatan periode variabilitas tinggi rekaman suhu. Mengikuti tingginya variabilitas iklim pada 2,7 juta tahun silam, sejumlah spesies muncul dalam rekaman fosil.
“Alat batu pertama yang muncul 2,6 juta tahun silam menunjukkan kemunculan alat itu guna merespon kondisi perubahan iklim yang cepat,” ungkap peneliti Matt Grove dari Liverpool.
Hasil studi memastikan, radiasi adaptif manusia bertepatan dengan penambahan periode fluktuasi iklim, lanjutnya. Meski begitu, kebanyakan spesies ini akhirnya menghilang.
“1,5 juta tahun silam hanya ada moyang manusia, Homo Erectus. Kunci bertahan hidup mereka nampaknya berasal dari fleksibilitas perilakunya,” ujar Grove.
Homo Erectus nampaknya merupakan generalis yang mampu menghadapi banyak kemungkinan iklim dan lingkungan,

1. Asal Mula

Hewan terdekat dengan manusia yang masih bertahan hidup adalah simpanse; kedua terdekat adalah gorila dan ketiga adalah orang utan. Sangat penting untuk diingat, namun, bahwa manusia hanya mempunyai persamaan populasi nenek moyang dengan hewan ini dan tidak diturunkan langsung dari mereka. Ahli biologi telah membandingkan serantaian pasangan dasar DNA antara manusia dan simpanse, dan memperkirakan perbedaan genetik keseleruhan kurang dari 5% [2]. Telah diperkirakan bahwa garis silsilah manusia bercabang dari simpanse sekitar 5 juta tahun lalu, dan dari gorila sekitar 8 juta tahun lalu. Namun, laporan berita terbaru dari tengkorak hominid berumur kira-kira 7 juta tahun sudah menunjukkan percabangan dari garis silsilah kera, membuat gagasan kuat adanya percabangan awal silsilah tersebut.
Berikut beberapa gejala penting dalam evolusi manusia:
  • perluasan rongga otak dan otak itu sendiri, yang umumnya sekitar 1,400 cm³ dalam ukuran volumnya, dua kali lipat perluasan otak simpanse dan gorila. Beberapa ahli antropologi, namun, mengatakan bahwa alih-alih perluasan otak, penyusunan ulang struktur otak lebih berpengaruh pada bertambahnya kecerdasan.
  • pengurangan gigi taring.
  • penggerak bipedal (dua kaki)
  • perbaikan laring / pangkal tenggorokan (yang memungkinkan penghasilan bunyi kompleks atau dikenal sebagai bahasa vokal).
Bagaimana gejala-gejala ini berhubungan, dengan cara apa mereka telah menyesuaikan diri, dan apa peran mereka dalam evolusi organisasi sosial dan kebudayaan kompleks, merupakan hal-hal penting dalam perdebatan yang berlangsung di antara para ahli antropologi ragawi saat ini.
Selama tahun 1990an, variasi dalam DNA mitochondria manusia diakui sebagai sumber berharga untuk membangun ulang silsilah manusia dan untuk melacak perpindahan manusia awal. Berdasarkan perhitungan-perhitungan ini, nenek moyang terakhir yang serupa manusia modern diperkirakan hidup sekitar 150 milenium lalu, dan telah berkembang di luar Africa kurang dari 100.000 tahun lalu. Australia dijelajahi relatif awal, sekitar 70.000 tahun lalu, Eropa +/- 40.000 tahun lalu, dan Amerika pertama didiami secara kasarnya 30.000 tahun lalu, serta kolonisasi kedua di sepanjang Pasifik +/- 15.000 tahun lalu (lihat Perpindahan manusia).

2. Kerohanian dan Agama

Bagi kebanyakan manusia, kerohanian dan agama memainkan peran utama dalam kehidupan mereka. Sering dalam konteks ini, manusia tersebut dianggap sebagai "orang manusia" terdiri dari sebuah tubuh, pikiran, dan juga sebuah roh atau jiwa yang kadang memiliki arti lebih daripada tubuh itu sendiri dan bahkan kematian. Seperti juga sering dikatakan bahwa jiwa (bukan otak ragawi) adalah letak sebenarnya dari kesadaran (meski tak ada perdebatan bahwa otak memiliki pengaruh penting terhadap kesadaran). Keberadaan jiwa manusia tak dibuktikan ataupun ditegaskan; konsep tersebut disetujui oleh sebagian orang dan ditolak oleh lainnya. Juga, yang menjadi perdebatan di antara organisasi agama adalah mengenai benar/tidaknya hewan memiliki jiwa; beberapa percaya mereka memilikinya, sementara lainnya percaya bahwa jiwa semata-mata hanya milik manusia, serta ada juga yang percaya akan jiwa kelompok yang diadakan oleh komunitas hewani dan bukanlah individu. Bagian ini akan merincikan bagaimana manusia diartikan dalam istilah kerohanian, serta beberapa cara bagaimana definisi ini dicerminkan melalui ritual dan agama.

3. Animisme

Animisme adalah kepercayaan bahwa obyek dan gagasan termasuk hewan, perkakas, dan fenomena alam mempunyai atau merupakan ekspresi roh hidup. Dalam beberapa pandangan dunia animisme yang ditemukan di kebudayaan pemburu dan pengumpul, manusia sering dianggap (secara kasarnya) sama dengan hewan, tumbuhan, dan kekuatan alam. Sehingga, secara moral merupakan kewajiban untuk memperlakukan benda-benda tersebut secara hormat. Dalam pandangan dunia ini, manusia dianggap sebagai penghuni, atau bagian, dari alam, bukan sebagai yang lebih unggul atau yang terpisah darinya. Dalam kemasyarakatan ini, ritual / upacara agama dianggap penting untuk kelangsungan hidup, karena dapat memenangkan kemurahan hati roh-roh sumber makanan tertentu, roh tempat bermukim, dan kesuburan serta menangkis roh berhati dengki. Dalam ajaran animisme yang berkembang, seperti Shinto, ada sebuah makna yang lebih mendalam bahwa manusia adalah sebuah tokoh istimewa yang memisahkan mereka dari segenap benda dan hewan, sementara masih pula menyisakan pentingnya ritual untuk menjamin keberuntungan, panen yang memuaskan, dan sebagainya.
Kebanyakan sistem kepercayaan animisme memegang erat konsep roh abadi setelah kematian fisik. Dalam beberapa sistem, roh tersebut dipercaya telah beralih ke suatu dunia yang penuh dengan kesenangan, dengan panen yang terus-menerus berkelimpahan atau bahkan permainan yang berlebih-lebih. Sementara di sistem lain (misal: agama Nawajo), roh tinggal di bumi sebagai hantu, seringkali yang berwatak buruk. Kemudian tersisa sistem lain yang menyatukan kedua unsur ini, mempercaya bahwa roh tersebut harus berjalan ke suatu dunia roh tanpa tersesat dan menggeluyur sebagai hantu. Upacara pemakaman, berkabung dan penyembahan nenek moyang diselenggarakan oleh sanak yang masih hidup, keturunannya, sering dianggap perlu untuk keberhasilan penyelesaian perjalanan tersebut.
 C. Evolusi Primata
Saya rangkum disini garis evolusi yang bermuara pada manusia. Harap dicatat bahwa ada banyak cabang-cabang besar yang sukses lainnya (terutama lemur, monyet Dunia Baru, dan monyet Dunia Lama) yang akan saya singgung sedikit. Juga lihat fossil hominid FAQ oleh Jim Foley untuk informasi lebih lengkap tentang fosil hominid.
GAP: “Pengelompokan modern dapat ditelusuri tanpa keraguan hingga masa awal Eocene” menurut Carroll (1988). Tapi sebelum itu, awal mula dari primata purba agak samar-samar. Ada sekelompok binatang-mirip-primata zaman Paleocene yang dinamakan “plesiadapids” yang mungkin merupakan nenek moyang primata, atau “sepupu” primata. (lihat Beard, in Szalay et al., 1993.)
  • Palaechthon, Purgatorius (pertengahan Paleocene) – plesiadapid yang sangat primitif. Bagi mata moderen tidak terlihat seperti primata sama sekali, hanya bermuka runcing, mamalia purba kecil dengan gigi-gigi primitif, dan dilengkapi cakar dan bukan kuku. Tetapi menunjukkan tanda-tanda pertama gigi seperti-primata; kehilangan satu gigi seri dan satu geraham depan, dan memiliki geraham yang relatif tumpul dan kotak.
  • Cantius (awal Eocene) – Satu dari primata sejati yang pertama (atau “primata dengan aspek modern”), lebih maju dari plesiadapid (lebih sedikit gigi, garis di belakang mata, tangan dan kaki untuk menggenggam) dan mulai menunjukkan adaptasi pada pohon seperti lemur.
  • Pelycodus & spesies yang serupa (awal Eocene) – primata primitif mirip-lemur.

Tarsier, lemur, dan monyet Dunia Baru tercabang di masa Eocene. Garis Dunia Lama berlanjut sebagai berikut:

  • Amphipithecus, Pondaungia (akhir Eocene, Burma) – Primata Dunia Lama yang amat purba dan hanya diketahui melalui pecahan-pecahan. Otak lebih besar, hidung lebih pendek, mata lebih ke depan (pertengahan antara mata plesiadapid dan mata kera modern).
D. Cara Manusia Bertahan Hidup
Sejak zaman dahulu kala banyak orang selalu bertanya, “apa tujuan hidup kita?”, atau dalam kata lain “buat apa kita hidup?”. Dari pertanyaan sederhana itu banyak sekali jawabannya, mulai dari jawaban versi agama, versi philosophy atau versinya sendiri-sendiri!. Tetapi bila kita mau memerhatikan mahluk lain, seperti burung Onta, Tapir, Anoa, Badak Cula Satu, Komodo, Panda, Koala, Penguin, Beruang Kutub ataupun satwa-satwa lainnya.

Sebenarnya kita bisa menarik kesimpulan yang sangat sederhana!. “Mereka atau kita hidup untuk bertahan hidup selama mungkin!” atau “Life is just about staying alive as long as we can!”. ada 3 versi besar bagaimana caranya bertahan hidup yaitu:
A. Dengan sikap dan kelakuan Baik (Protagonist).
B. Dengan sikap dan kelakuan Buruk (Antagonist).
C. Dengan sikap dan kelakuan Kombinasi Baik & Buruk (Neutralist).

A.1 Protagonist:
Dengan sikap dan kelakuan Baik, hidup ini kita dedikasikan untuk selalu berpositive thinking, optimis, jujur, berorientasi pada sisi kemanusiaan, hak asasi manusia, peduli pada orang lain (care to others).
Peduli pada lingkungan (care to our habitat), patuh pada hukum manusia atau hukum yang disepakati bersama bila ada mahluk planet lain sudah ada juga bergabung dengan kita di bumi atau bila kita tinggal di planet lainnya, memahami alam agar tidak terjadi bencana alam dan mampu mencari solusinya, etika, moral, berkomunitas baik, tidak merugikan atau memaksakan kehendak kita kepada orang atau mahluk cerdas lainnya.

Tidak punya fikiran iri, dengki, tidak arogan, tidak cemburuan yang berlebih, rajin, mau belajar ilmu pengetahuan (science/ sains), punya keahlian tertentu sedikit atau banyak, bersikap menyenangkan dan tidak bersikap salah dan benar berdasarkan pola fikir agama, apapun agama kita!.

B.1 Antagonist:
Dengan sikap dan kelakuan buruk, negative thinking, iri, dengki, bohong, pelanggar hukum, munafik, merampok, mencuri, korupsi, menghilangkan data orang lain yang memerlukan, malas, tidak mau belajar.
Mengaku hasil kerja orang lain sebagai hasil kerjanya, memfitnah, mencari kambing hitam pada hal-hal buruk yang kita lakukan.
Menghancurkan alam dan membuat berbagai macam polusi, pencemburu berat, tidak punya keahlian apa-apa hingga yang bisa dilakukan cuma omong doang jadi keahliannya cuma menjilat tapi mengaku, pintar dan cerdas.. Pokoknya segala hal yang merugikan orang atau memaksakan ke hendak kita kepada orang lain secara legal (mempermainkan hukum) maupun ilegal.

C.1 Neutralist:
Dengan sikap dan kelakuan Kombinasi yang Baik dan Buruk (Netral/ Balance), ada kalanya seorang penganut aliran cara bertahan hidup yang baik menjadi korban dari penganut aliran cara hidup sikap dan kelakuan buruk.
Oleh karena itulah, kita akhirnya dengan terpaksa melakukan teknik bertahan hidup dengan sikap dan kelakuan buruk pula tetapi dengan tujuan untuk menjatuhkan hal yang lebih buruk lagi yang akan terjadi yang dilakukan oleh orang lain.

Bolehkah?, tentu saja boleh, bertahan hidup sama seperti bermain catur saja!, siapa yang cerdas dan pandai untuk mengatasi berbagai masalah dengan berbagai kemampuan yang kita miliki dan berusaha sekuat mungkin menjadi pemenang maka dia berhak hidup!.
Tetapi semua ada konsekwensinya, baik merasa bersalah secara fikiran ataupun fisik, tetapi ada juga yang tidak merasa sakit secara fikiran maupun fisik, bila sudah gila tentunya?, belum tentu juga, bagaimana kalau sudah terbiasa?.
Dan ada kalanya juga seorang penganut Sikap dan kelakuan Buruk untuk bertahan hidup menjadi berubah haluan menjadi aliran sikap dan kelakuan baik dalam bertahan hidup, atau bahkan mengambil jalur menggabungkan keduanya.























BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sejak dahulu kala manusia selalu mempertanyakan asal-usul kehidupan dan dirinya. Jawaban sementara atas pertanyaan tersebut ada tiga altenatif, yaitu penciptaan, transformasi, atau evolusi biologi.
Definisi evolusi biologi bermacam-macam tergantung dari aspek biologi yang dikaji. Beberapa definisi yang umum dijumpai di buku-buku biologi, antara lain: evolusi pada makhluk hidup adalah perubahan-perubahan yang dialami makhluk hidup secara perlahan-lahan dalam kurun waktu yang lama dan diturunkan, sehingga lama kelamaan dapat terbentuk species baru: evolusi adalah perubahan frekuensi gen pada populasi dari masa ke masa; dan evolusi adalah perubahan karakter adaptif pada populasi dari masa ke masa. Evolusi telah mempersatukan semua cabang ilmu biologi.
Idea tentang terjadinya evolusi biologis sudah lama menjadi pemikiran manusia. Namun, di antara berbagai teori evolusi yang pernah diusulkan, nampaknya teori evolusi oleh Darwin yang paling dapat teori . Darwin (1858) mengajukan 2 teori pokok yaitu spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies yang hidup sebelumnya, dan evolusi terjadi melalui seleksi alam. Perkembangan tentang teori evolusi sangat menarik untuk diikuti. Darwin berpendapat bahwa berdasarkan pola evolusi bersifat gradual, berdasarkan arah adaptasinya bersifat divergen dan berdasarkan hasilnya sendiri selalu dimulai terbentuknya varian baru.
Dalam perkembangannya teori evolusi Darwin mendapat tantangan (terutama dari golongan agama, dan yang menganut paham teori penciptaan – Universal Creation), dukungan dan pengkayaan-pengkayaan. Jadi, teori sendiri juga berevolusi sehingga teori evolusi biologis yang sekarang kita kenal dengan label “Neo Darwinian” dan “Modern Sintesis”, bukanlah murni seperti yang diusulkan oleh Darwin. Berbagai istilah di bawah ini merupakan hasil pengkayaan yang mencerminkan pergulatan pemikiran dan argumentasi ilmiah seputar teori evolusi: berdasarkan kecepatan evolusi (evolusi quasi dan evolusi quantum); berdasarkan polanya (evolusi gradual, evolusi punctual, dan evolusi saltasi) dan berdasarkan skala produknya (evolusi makro dan evolusi mikro).

Kepustakaan
  1. ^ Groves, Colin (16 September 2005). Wilson, D. E., dan Reeder, D. M. (eds). ed. Mammal Species of the World (edisi ke-edisi ketiga). Johns Hopkins University Press. ISBN 0-801-88221-4.
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI Dr. Rifaat Syauqi Nawawi, MA., dkk., Metodologi Psikologi Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000.
Bustanuddin Agus, al-Islam, PT. Raja Grafindo persada, Jakarta, 1993.
Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1995.
Abdul Mujib, M.Ag, dan Yusuf Muzakir, M.Si., Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001.
Jamaluddin Kafie, Psikologi Dakwah, Offset Indah, Surabaya, 1993.avert.org/condom.htm

ze:13.� {*mo�� ��� t-size:12.0pt;line-height:150%'>KENAKALAN REMAJA
> t �*ls�� ��� al style='mso-margin-top-alt:auto;mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:.25in'>2. Pencemaran tanah melalui air
Air yang mengandung bahan pencemar (polutan) akan mengubah susunan kimia tanah sehingga mengganggu jasad yang hidup di dalam atau di permukaan tanah.
3. Pencemaran tanah melalui udara
Udara yang tercemar akan menurunkan hujan yang mengandung bahan pencemar yang mengakibatkan tanah tercemar juga.
Bahan-bahan yang dapat mencemari tanah atau pestisida dapat digolongkan
menurut tujuan penggunaannya, yaitu :

1. Insektisida ialah chat pembasmi insekta atau serangga yang biasa mengganggu tanaman.
2. Pestisida ialah obat pembasmi hama tanaman.
3. Herbisida ialah obat pembasmi tanaman yang tidak diharapkan tumbuh.
4. Fungisida ialah obat pembasmi jamur yang tidak di harapkan tumbuh .
5. Rodentisida ialah obat pemusnah binatang pengerat seperti tikus.
6. Akarisida ( Mitesida ) ialah pembunuh kutu.
7. Algisida ialah pembunuh ganggang.
8. Avisida ialah pembunuh burung.
9. Bakterisida ialah pembunuh bakteri.
10.Larvisida ialah pembunuh ulat.
11.Moleksisida ialah pembunuh siput.
12.Nematisida ialah pembunuh nematoda.
13.Ovisida ialah perusak telur.
14.Pedukulisida ialah pembunuh tuma.
15.Piscisida ialah pembunuh ikan
16.Predisida ialah pembunuh predator ( pemangsa ).
17.Silvisida yaitu pembunuh pahon atau pembersih pahon.
18.Termisida ialah pembunuh rayap atau hewan yang suka melubangi kayu.
19.Atraktan ialah penarik serangga melalui baunya.
20.Kemostrilan ialah pensterilan serangga atau vertebrata.
21.Defoliant ialah penggugur daun untuk memudahkan panen.
22.Desikan ialah pengering daun atau bagian tanaman lainnya.
23.Desinpektan ialah pembasmi mikro organisme
24.Repellan ialah penolak atau penghalau hama.
25.Sterilan ialah mensterilkan tanah dari jasad renik atau biji gulma.
26.Surpaktan ialah untuk meratakan pestisida pada permukaan daun .
27.Stimulan ialah zat yang dapat mendorong pertumbuhan tetapi mematikan terjadinya buah.


Dari daftar di atas, belum semua macam pestisida di sebutkan. Karena itu banyak sekali banyak sekali bahan yang mengandung kimia dan membahayakan makhluk hidup, termasuk manusia. Pestisida membantu manusia memberantas hama.
Disamping itu pestisida mencemari tanah, air, dan udara kita. Jadi, pestisida amat membantu manusia jikadipakai dalam jumlah yang tepat, dan dapat merugikan jika dipakai berlebihan. Demikian juga pupuk yang amat berguna memberikan hara bagi tanaman, jika diberikan berlebihan menjadikan racun bagi tanaman. Deterjen yang bersisa tidak dapat terurai juga akan mencemari tanah. Zat-zat yang terdapat dalam deterjen itu masuk ke dalam tanah dan meracuni tanah. Sampah padat yang bertumpuk banyak yang tidak dapat teruraikan oleh makhluk pengurai dalam waktu yang lama juga akan mencemari tanah juga.
B. Penanganan Pencemaran Tanah
Penanganan pestisida sebagai pencemar tanah ialah dengan tidak menggunakannya. Cara ini merupakan yang paling baik hasilnya, tetapi hama tanah mengakibatkan hasil produksi menurun.


Cara yang dapat ditempuh ialah :

1. pengaturan jenis tanaman dan waktu tanam
2. Memilih varietas tanaman yang tahan hama
3. Menggunakan musuh alami untuk hama
4. Menggunakan horlmon serangga
5. Pemandulan (sterilisasi)
6. Memamfaatkan daya tarik seks untuk serangga

Pada dasarnya cara-cara yang ditempuh itu berlaku untuk bahan kimia,pupuk, atau deterjen. Kehati-hatian pada pemakaian bahan-bahan ini perlu diperhatikan jangan sampai bahan-bahan itu tececer, mengenai badan manusia, atau mencemarkan lingkungan.


BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan
Jelasnya bahwa pengertian lingkungan hidup itu sendiri adalah merupakan sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan mahkluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lain, dengan disertai pengelolaan lingkungan hidup sebagai upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan dan pengendalian lingkungan hidup. Dengan berkaitan terhadap ruang Lingkup Lingkungan Hidup yang terdiri dari Pendekatan Intrumental dan Pendekatan Alam





















DAFTAR PUSTAKA

Republik Indonesia, Undang-Undang No. 23 Tahun 1997.
Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah No.51 Tahun 1993.
Peraturan Pelaksanaan No. 51 Tahun 1993.
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 42 Tahun 1994 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Audit Lingkungan.
KEPMEN LH No. 54 Tahun 1995 tentang Pembentukan Komisi AMDAL Terpadu/Multisektor dan Regional.
KEPKA BAPEDAL No. 056 Tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting.
KEPMEN LH No. 55 Tahun 1995 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Regional.
KEPMEN LH No. 57 Tahun 1995 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Usaha atau Kegiatan Terpadu/Mulsektoral.

KEPMEN LH No. 39Tahun 1996 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.

PP. No. 51 Tahun 1994 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya.
PP. No. 12 Tahun 199 tentang Perubahan PP 19 Tahun 1994 tentang Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.

mm:



0 komentar:

Poskan Komentar

KAWAN...Jangan Lupa Like ya
×
Blog Dian Alm II © 2008. Template by: Infonetmu